Anak Keseringan Main Gadget, Nih Moms Lihat Akibatnya, Fatal !!!

Diposting pada

Satu pelajaran lagi teruntuk para orang tua. Seorang ibu rumah tangga mengaku menyesal ketika putrinya mengalami masalah pada mata meski baru berusia tujuh tahun. Saking menyesalnya ibu satu anak ini, ia ingin memutar waktu kembali. “Kalau bisa diulang, lebih baik anak Gaptek (Gagap teknologi) daripada mata yang jadi korban, maafkan mama ya,” sesal dia dalam sebuah tulisan di akun Facebook-nya, sebagaimana dikutip dari Rakyat Kalbar. Dia berusaha untuk tidak membayangkan betapa susahnya buah hatinya itu mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. “Bodohnya gak jadi orang tua, tidak langsung tanggap,” ungkapnya. Perempuan 33 tahun yang enggan namanya disebutkan ini mengungkapkan, sang anak bermain gadget sejak berumur tiga tahun. Ketika masuk ke sekolah dasar, intensitas penggunaan gadget memang dikurangi. Hanya diperbolehkan saat hari libur saja, Sabtu dan Minggu. Ternyata, sang anak benar-benar memanfaatkan waktu dua hari itu. Seharian dia bermain gadget.

“Dari bangun tidur sampe lah tertidur lagi, main terus, apalagi dia sambil baring,” jelasnya ditemui Rakyat Kalbar di tempat kerjanya belum lama ini.

Ia mengetahui problem penglihatan anaknya ini saat melihat jadwal pelajaran yang ditulis si buah hati. Banyak yang salah, terlihat asal-asalan.

“Misalnya, kalau hari Senin ada upacara bendera, punya dia nda ada, Senin sampai Jumat tidak ada benar tulisnya,” tutur sang bunda.

Awalnya, ia mengira siswi kelas II SD itu malas menulis. Namun, karena penasaran, ia mengusut keanehan ini dengan cara mencocokkan jadwal pelajaran si anak dengan temannya, yang kebetulan juga menyekolahkan buah hatinya di tempat sama. Akhirnya, warga Kota Baru, Pontianak, ini bertanya kepada anaknya. Tak dijawab, si anak malah menangis. Pelan-pelan ditanyai, si anak menjawab. Kata dia, karena di dalam kelas duduk paling belakang, jadi tidak bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas. Tulisan tampak berbayang di mata si anak.

“Jangan-jangan anakku ini tidak bisa melihat, kataku dalam hati,” jelas sang bunda.

Hari itu juga, anaknya itu dibawa ke dokter spesialis mata. Kaget lah dia bukan kepalang. Kata dokter, anaknya bermata silinder hingga 2,5. Hal ini, masih mengutip dokter itu, disebabkan kecapekan pada mata karena terlalu sering menatap layar smartphone. Nasib baik, dokter menyebut silinder pada anak-anak masih bisa disembuhkan.

“Dia silinder murni, kata dokter karena gaya hidupnya, matanya rusak karena HP,” beber sang bunda.

Sebenarnya, sejak putrinya itu duduk di kelas satu, sudah ada gejala. Tapi, ia belum tanggap. Saat itu, jika menulis angka atau mengerjakan tugas Matematika misalnya, selalu mendapatkan nilai rendah, padahal anaknya bisa berhitung.

“Kalau aku lihat jawabnya benar, tapi kok disalahkan gurunya, penasaran kutanyakan ke gurunya,” ucap sang bunda.

Guru tersebut menjawab yang ditulis anaknya memang benar tetapi pertanyaan yang tertera di papan tulis bukan lah yang ditulis sang anak. Selain itu, tulisan dalam buku catatan anaknya juga berbeda dengan teman-temannya.

“Dari hasil tulisan dia, kayaknya sebisa dia melihat lah, misalnya angka 60 ditulis 80,” terang sang bunda.

Dia berharap kejadian ini menjadi pelajaran orangtua lainnya. “Zaman sekarang nda bisa juga tidak dikenalkan teknologi, tapi harus dipantau,” pungkasnya.

Menjawab koran ini, dokter spesialis mata Pontianak, dr. Sihabudin SpM menyatakan, smartphone, android, tablet, memiliki pancaran cahaya. Jika terlalu lama menatapnya menyebabkan kelelahan pada otot mata.

“Dia memancar, berbeda dengan buku. Jika anak mainnya selama 4 jam berturut-turut akan terjadi kekakuan otot,” jelas Sihabudin, ditemui di tempat praktiknya di Jalan Tanjungpura Pontianak.

Dikatakannya, hal tersebut bisa mempercepat minus di mata anak. “Jika anak itu mempunyai faktor keturunan minus akan mempercepat terjadinya minus, namun jika anak itu normal tidak terjadi (minus). Jadi, bukan menyebabkan minus,” jelasnya.

Menurut dia, orang dewasa pun, jika terlalu lama menggunakan gadget bisa lelah matanya. Apalagi anak-anak yang matanya masih dalam pertumbuhan. Di kota Pontianak, hampir setiap hari ia menangani kasus seperti ini. Pasien anak usia 4 – 6 tahun disebabkan terlalu lama bermain alat komunkasi tersebut.

“Kebanyakan bilang minus, tapi saya cek normal saja, itu karena kecapekan mata,” ungkap Sihabudin.

Orangtua, lanjut dia, cenderung memanjakan anaknya. Bahkan sengaja membelikan gadget sebagai hiburan atau mainan padahal usia si anak terlalu dini. Sihabudin menyatakan, hal itu tidak baik. Tidak hanya merusak mata, banyak dampak negatif lain yang ditimbulkan.

“Boleh bermain, misalnya Sabtu sore, dan juga orangtuanya harus memantau atau mengontrol,” pintanya.

Senada, Psikolog Anak Pontianak, Maria Nofaulla. Rasa sayang terharap anak harus dipertimbangkan dampak buruknya. Tidak hanya mengganggu kesehatan, gadget bisa membuat anak kebanyakan diam.

“Sebab dia terlalu fokus dengan permainan itu, membuat kemampuan gerak anak sedikit,” tuturnya.

Sedangkan, pada usia tersebut, anak seharusnya berlari, melompat, bermain dengan teman sebayanya untuk tumbuh kembangnya. “Asyik main gadget, anak tidak bisa bersosialisasi, tidak fokus belajar. Banyak perubahan kemampuan geraknya, padahal di usianya dia harus bergerak,” terang Maria. Perempuan berusia 36 tahun ini menyarankan, sebaiknya berikan permainan anak yang bisa membuat dia melihat banyak hal. “Yang membantu kemampuan panca indranya untuk tumbuh,” ujarnya. Ia menjelaskan, kebiasaan anak menangis ketika meminta sesuatu merupakan salah satu cara untuk menaklukkan orangtuanya. Dan ketika dituruti, si anak akan berhenti menangis.

“Mama atau papanya harus bisa menghibur atau membujuk. Saat itu lah (anak menangis) tercipta hubungan kedekatan anak dan orangtua,” terang Maria.

Lanjut dia, tidak lah salah memanjakan anak. Namun tetap harus dipantau. Dan, sebisanya di hadapan anak, orangtua juga tidak ikutan sibuk dengan gadgetnya.

“Harus kontrol berapa lama anak bermain, ini kembali ke pengetahuan orangtuanya,” tandasnya.

 

 

Sumber : jawapos.com

Bagikan ini :